Bulan September 2025: Perencanaan


Ujian praktik pentas drama ini menjadi pengalaman yang cukup berkesan bagi saya. Selama bulan September, kami sebagai satu kelas memulai prosesnya dari awal. Saya berperan sebagai scriptwriter yang bekerja sama dengan director untuk menentukan konsep cerita, memilih karakter yang sesuai, serta menyusun perencanaan dan melakukan riset terhadap tokoh yang akan diangkat.
Salah satu bagian yang paling menarik adalah proses riset tentang tokoh-tokoh yang berjasa dan berjuang untuk Indonesia. Dari sini saya belajar bahwa sejarah tidak hanya sebatas materi pelajaran, tetapi merupakan kisah nyata tentang perjuangan dan nilai-nilai yang patut dihargai. Prosesnya terasa menyenangkan karena kami jadi banyak membaca dan mencari tahu hal-hal baru.
Saya sendiri mendalami karakter Tjilik Riwut. Dalam prosesnya, saya belajar memahami latar belakang, peran perjuangan, serta nilai yang ia pegang agar interpretasi karakter tidak sekadar permukaan. Hal ini melatih saya untuk lebih kreatif dalam mengolah informasi menjadi naskah yang tetap relevan dan bermakna.
Namun, proses ini juga memiliki tantangan. Kesulitan terbesar ada pada tahap riset, karena karakter yang kami pilih tidak sepopuler tokoh-tokoh nasional pada umumnya. Sumber informasi yang tersedia tidak terlalu banyak, dan beberapa sumber memberikan data yang berbeda-beda. Kami harus mencocokkan informasi dari berbagai referensi dan memastikan kebenarannya agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan naskah. Dari sini saya belajar pentingnya ketelitian, berpikir kritis, dan tidak langsung menerima satu sumber sebagai kebenaran mutlak.
Selain itu, saya juga belajar tentang kerja sama tim. Sebagai scriptwriter, saya perlu berdiskusi dengan director dan teman-teman lain, menerima masukan, serta menyesuaikan naskah dengan kebutuhan pementasan. Proses ini melatih komunikasi, keterbukaan, dan kemampuan berkolaborasi.
Secara keseluruhan, ujian praktik ini bukan hanya tentang menghasilkan sebuah pentas drama, tetapi juga tentang proses belajar yang lebih mendalam. Saya belajar meneliti dengan lebih kritis, mengembangkan kreativitas dalam menginterpretasikan karakter, serta bekerja sama dalam tim untuk mencapai tujuan bersama.
Bulan Oktober 2025 – Desember 2025: Penulisan Naskah


Pada periode Oktober hingga Desember, proses pengerjaan drama kami memasuki tahap yang lebih serius, yaitu penulisan naskah secara formal, rapi, dan sesuai format. Jika sebelumnya kami lebih banyak berdiskusi dan melakukan riset, pada tahap ini kami mulai menyusun naskah dengan struktur yang jelas serta mengikuti kaidah penulisan drama yang benar. Dari sini saya belajar lebih banyak tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang baku dan formal. Tantangannya adalah menjaga agar dialog tetap sopan dan sesuai aturan, namun tetap terasa alami dan menarik ketika dipentaskan.
Kami juga melanjutkan riset dengan lebih mendalam. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah kesempatan untuk melakukan pertemuan dan mendapatkan konfirmasi langsung mengenai informasi serta kebenarannya dari cucu Tjilik Riwut, yaitu Pak Heru. Melalui pertemuan tersebut, kami dapat memastikan bahwa data dan cerita yang kami angkat sudah sesuai dengan fakta. Hal ini membuat saya semakin memahami pentingnya validasi sumber, terutama ketika mengangkat tokoh sejarah agar tidak terjadi kesalahan informasi.
Sebagai scriptwriter, saya semakin mendalami karakter Tjilik Riwut. Proses ini tidak hanya membantu dalam penulisan naskah, tetapi juga memberikan inspirasi secara pribadi. Saya belajar tentang semangat nasionalisme, sikap pantang menyerah, serta perjuangannya untuk Indonesia. Selain itu, saya juga terinspirasi oleh kerendahan hati dan kerelaan dirinya dalam berjuang tanpa mengutamakan kepentingan pribadi. Nilai-nilai tersebut membuat saya menyadari bahwa perjuangan sejati dilandasi oleh ketulusan dan tanggung jawab.
Pada tahap ini, kami juga melakukan proses casting untuk mencocokkan siswa dengan karakter yang sesuai dengan kemampuan dan kepribadian masing-masing. Dari proses tersebut, saya belajar untuk lebih terbuka terhadap potensi teman-teman sekelas. Terkadang kemampuan seseorang tidak langsung terlihat, tetapi setelah diberi kesempatan, justru berkembang dengan sangat baik. Proses ini mengajarkan saya bahwa setiap orang memiliki potensi yang berbeda dan penting untuk memberikan ruang agar potensi tersebut dapat muncul.
Dalam pembagian tugas penulisan, saya mendapat bagian menulis adegan upacara serta adegan yang menunjukkan perkembangan Kalimantan. Salah satu adegan tersebut menggunakan Bahasa Jawa. Proses ini cukup menantang karena saya harus menyesuaikan penggunaan bahasa dengan konteks budaya dan suasana adegan. Selain itu, kami mendapat masukan bahwa naskah yang kami susun terlalu panjang, sehingga perlu dilakukan revisi. Dari situ saya belajar untuk memilah bagian yang benar-benar esensial dan fokus pada inti cerita agar tetap efektif saat dipentaskan.
Kami juga belajar berkolaborasi lebih intens antar divisi, seperti divisi dekorasi, properti, dan teknis lainnya. Kami tidak hanya menulis cerita, tetapi juga memastikan bahwa setiap detail dalam naskah dapat direalisasikan di atas panggung. Proses ini melatih kami untuk berpikir lebih rinci dan realistis, serta menyadari bahwa keberhasilan sebuah pementasan merupakan hasil kerja sama seluruh tim.
Secara pribadi, periode ini cukup menantang karena saya juga sedang mempersiapkan keperluan perkuliahan serta mengikuti berbagai kegiatan lainnya. Saya harus belajar membagi waktu dengan lebih disiplin. Dari segi bahasa, saya menyadari bahwa kemampuan saya dalam menggunakan Bahasa Indonesia formal masih perlu ditingkatkan. Untuk Bahasa Jawa pun saya hanya memahami dasar-dasarnya dan belum terbiasa menggunakan bentuk yang lebih sopan dan formal sesuai kebutuhan naskah. Saya harus berusaha mengatasi hambatan bahasa tersebut dengan mencari referensi tambahan dan berdiskusi dengan teman yang lebih memahami.
Meskipun prosesnya tidak selalu mudah, saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan ini. Dari pengalaman ini, saya belajar tentang kedisiplinan, ketelitian, kerja sama tim, keterbukaan terhadap potensi orang lain, serta keberanian untuk mengatasi keterbatasan diri. Selain itu, saya juga mendapatkan inspirasi dari nilai-nilai perjuangan yang saya pelajari, yang semoga dapat saya terapkan dalam kehidupan saya ke depan.
Bulan Desember 2025 – Februari 2026: Latihan










Pada periode Desember hingga Februari, kami memasuki tahap latihan pementasan. Pada awal bulan Desember, latihan masih cukup ringan dan berfokus pada pembacaan naskah serta pemahaman alur cerita. Namun, semakin mendekati hari pementasan, latihan menjadi lebih serius dan intensif. Kami mulai memperhatikan detail-detail kecil agar suasana yang ditampilkan terasa lebih nyata dan mendukung jalannya cerita.
Karena tugas saya sebagai penulis naskah sudah selesai, saya memilih untuk membantu di balik layar. Saya diberi tanggung jawab sebagai bagian dari tim backstage. Selama latihan mandiri, saya membantu mengamati jalannya adegan, memperhatikan keluar-masuk pemeran, dan sesekali memberikan saran jika diperlukan. Saat latihan dilakukan di sekolah dan sudah menggunakan area backstage yang sebenarnya, saya membantu mengingatkan posisi masuk pemeran dari sisi kanan atau kiri panggung serta membantu menyiapkan dan memasukkan properti pada adegan tertentu. Pada dasarnya, saya membantu memastikan hal-hal teknis di belakang panggung berjalan dengan baik.
Selain itu, karena tidak menjadi pemeran, saya juga membantu membuat beberapa properti ketika teman-teman lain sedang latihan. Dari proses ini, saya bisa melihat bagaimana pementasan kami berkembang dari waktu ke waktu. Adegan yang awalnya masih terasa kurang mendalam perlahan menjadi lebih realistis dan terstruktur. Kerja sama antaranggota kelas juga semakin terlihat, karena setiap orang menjalankan perannya masing-masing.
Selama masa latihan, ada beberapa tantangan yang kami hadapi. Lokasi latihan yang sering berada di wilayah timur dan tengah pada akhir pekan membuat transportasi menjadi cukup sulit. Kemacetan juga sering terjadi sehingga perjalanan memakan waktu cukup lama, bahkan terkadang latihan berlangsung hingga malam hari. Situasi ini mengajarkan kami untuk lebih disiplin dalam mengatur waktu dan menjaga komitmen.
Pada periode ini, kami juga melakukan pengecatan kain untuk kebutuhan latar panggung. Kami berkumpul di salah satu rumah dan mengecat bersama-sama. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses persiapan yang cukup menyenangkan karena dilakukan secara gotong royong.
Secara keseluruhan, masa latihan ini memberikan pengalaman tentang tanggung jawab, ketelitian, serta pentingnya kerja sama dalam sebuah tim. Meskipun melelahkan, prosesnya berjalan dengan baik dan menunjukkan perkembangan yang konsisten hingga mendekati hari pementasan.
11 Februari 2026: Gladi Bersih


Hari gladi bersih menjadi salah satu momen yang cukup menegangkan sekaligus berkesan bagi saya. Pada hari tersebut, saya tiba-tiba diberi tugas untuk mengoperasikan spotlight dan tidak lagi berada di backstage seperti sebelumnya. Awalnya saya cukup bingung karena pergantian tugas ini terjadi secara mendadak dan saya belum pernah mencobanya secara langsung sebelumnya.
Di sisi lain, pengalaman ini juga terasa seru karena dari posisi tersebut saya bisa melihat jalannya pertunjukan dengan lebih jelas. Saya belajar hal baru, yaitu bagaimana mengatur pencahayaan dan mengoperasikan spotlight agar sesuai dengan adegan. Pada saat yang sama, saya merasa cukup bersemangat karena pementasan sudah semakin dekat dan itu berarti seluruh proses ujian praktik kami hampir selesai.
Namun, saya juga merasa takut dan tegang karena posisi spotlight berada di tempat yang cukup tinggi dan bagian belakangnya terbuka. Saya sempat khawatir terjatuh karena harus berdiri di area tersebut sambil tetap fokus pada pengaturan lampu. Untungnya, semuanya berjalan dengan aman. Meskipun menegangkan, pengalaman memegang dan mengatur spotlight secara langsung terasa sangat seru dan menjadi pengalaman baru yang mungkin tidak akan sering saya rasakan lagi.
Secara jujur, hari gladi bersih terasa cukup kacau bagi saya. Karena itu adalah latihan pertama sekaligus terakhir saya di posisi tersebut dan saya menjalaninya sendirian, saya masih bingung dengan pengaturan tombol. Beberapa kali lampu menyala dan mati tidak pada waktu yang tepat, dan pergerakan spotlight juga belum sepenuhnya halus. Dari situ saya menyadari bahwa mengatur pencahayaan membutuhkan fokus, ketenangan, dan koordinasi yang baik dengan jalannya adegan.
Setelah gladi bersih selesai, kami melakukan evaluasi. Saya menerima beberapa saran dan masukan terkait ketepatan waktu dan cara mengoperasikan tombol dengan lebih efektif. Saya mencatat semua evaluasi tersebut dan menggunakannya sebagai bahan persiapan untuk hari-H.
Dari pengalaman ini, saya belajar untuk menjadi lebih fleksibel. Perubahan tugas yang terjadi secara tiba-tiba mengajarkan saya untuk cepat beradaptasi dan tidak terpaku pada satu peran saja. Saya juga belajar untuk tetap tenang ketika menghadapi situasi baru, menerima kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, serta berani mencoba hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Meskipun menegangkan, pengalaman gladi bersih ini menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi saya.