
Dalam proyek kolaboratif ujian praktik ini, saya mendapat dua peran penting, yaitu sebagai tentara Indonesia yang menjadi komandan peleton untuk baris-berbaris serta sebagai tukang bangunan. Kedua peran ini awalnya terasa menantang, terutama karena saya harus tampil percaya diri dan bertanggung jawab di depan banyak orang. Sebagai komandan peleton, saya dituntut untuk mampu memberikan aba-aba dengan suara yang lantang, jelas, dan tegas. Saya belajar bagaimana mengatur intonasi suara, menjaga sikap tubuh, serta memastikan seluruh anggota peleton bergerak serempak. Tanggung jawab ini melatih keberanian saya untuk tampil di depan umum dan memimpin teman-teman dengan penuh rasa tanggung jawab. Saya menyadari bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal memberi perintah, tetapi juga memberi contoh, menjaga kekompakan, dan membangun semangat tim.
Di sisi lain, peran saya sebagai tukang bangunan juga memiliki makna yang mendalam. Peran tersebut menggambarkan perjuangan rakyat biasa yang bekerja keras demi membangun kehidupan yang lebih baik. Melalui peran ini, saya belajar tentang pentingnya kerendahan hati dan kerja keras. Meskipun terlihat sederhana, peran tersebut tetap memiliki arti penting dalam keseluruhan pementasan. Saya semakin memahami bahwa setiap tokoh, sekecil apa pun perannya, tetap berkontribusi terhadap keberhasilan sebuah pertunjukan. Tanpa kerja sama dan saling menghargai antaranggota tim, pementasan tidak akan berjalan maksimal.
Bagian hidup tokoh yang paling menarik bagi saya adalah ketika Tjilik Riwut menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Tengah dan membawa kemajuan bagi masyarakat di daerah tersebut. Pada fase ini terlihat jelas bahwa beliau bukan hanya seorang pemimpin secara jabatan, tetapi juga pelayan bagi rakyatnya. Ia menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat, pembangunan daerah, serta menjaga persatuan di tengah keberagaman. Kepemimpinan yang ditunjukkannya bukan didasarkan pada kekuasaan semata, melainkan pada semangat pengabdian. Dari kisah hidup beliau, saya belajar bahwa pemimpin sejati adalah orang yang mau turun langsung ke lapangan, mendengarkan kebutuhan rakyat, dan bekerja demi kebaikan bersama. Semangat pengabdian beliau menginspirasi saya untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan tidak bersikap acuh terhadap permasalahan sosial.
Proses menuju hari pementasan bukanlah hal yang mudah. Kami mulai berlatih sejak bulan November. Pada awal latihan, masih banyak kekurangan, baik dalam kekompakan gerakan, penghayatan peran, maupun pengaturan suara dan posisi panggung. Terkadang kami merasa lelah setelah pulang sekolah dan harus melanjutkan latihan. Ada juga perbedaan pendapat di antara kami, namun dari situlah kami belajar untuk saling memahami dan bekerja sama. Setiap latihan membuat kami semakin kompak dan percaya diri. Guru-guru pembimbing juga terus memberi arahan dan motivasi agar kami memberikan yang terbaik.
Akhirnya, tibalah hari yang kami tunggu-tunggu, yaitu tanggal 12 Februari, saat kami tampil dalam ujian praktik umum di depan orang tua kami. Perasaan saya campur aduk antara gugup, bangga, dan terharu. Ketika berdiri di atas panggung sebagai komandan peleton dan melihat orang tua menyaksikan penampilan kami, saya merasa semua usaha dan latihan selama berbulan-bulan benar-benar terbayarkan. Kami dapat tampil dengan lancar, kompak, dan penuh penghayatan. Tepuk tangan yang meriah dari para penonton menjadi bukti bahwa kerja keras kami membuahkan hasil yang memuaskan.
Melalui pengalaman ini, saya tidak hanya belajar tentang peran yang saya mainkan, tetapi juga tentang arti tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, dan pengorbanan. Ujian praktik ini menjadi pengalaman berharga yang tidak akan saya lupakan. Saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari tim yang solid dan berhasil memberikan penampilan terbaik. Semua proses dari bulan November hingga puncaknya pada 12 Februari benar-benar menjadi perjalanan yang bermakna dan membentuk saya menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan bertanggung jawab.


