Refleksi Uprak Yoyo B233

Sebagai siswa SMAK St. Louis 1 Surabaya, saya mengikuti ujian praktik ini secara
kolaboratif bersama teman satu kelas. Melalui proyek ini, saya memerankan tokoh Belanda
dalam kisah perjuangan Anakletus Tjilik Riwut. Proses ujian praktik ini memberi saya banyak
pengalaman yang sangat berharga, bukan hanya tentang tokoh yang kami perankan, tetapi
juga tentang sikap hidup, kerja sama, dan pembentukan karakter selama menjalani ujian
praktik.
Bagian hidup yang paling menarik dari tokoh ujian praktik kelas saya, yaitu Anakletus Tjilik
Riwut, adalah sikap hidupnya yang sederhana, pekerja keras, dan apa adanya. Ia dikenal
sebagai pribadi yang gigih dalam memperjuangkan serta menyatukan masyarakat di
Kalimantan. Hal yang paling menginspirasi bagi saya adalah semangat juangnya yang tidak
mudah menyerah walaupun harus menghadapi banyak rintangan dan tantangan. Dalam
perjuangannya, Anakletus Tjilik Riwut tidak mencari keuntungan pribadi, tetapi lebih
mengutamakan kepentingan bersama. Dari tokoh ini, saya belajar bahwa menjadi pribadi
yang sederhana, jujur, dan setia pada tujuan merupakan hal yang sangat penting, terutama
ketika kita ingin membawa perubahan yang baik bagi lingkungan sekitar.
Dalam proses ujian praktik ini, peran saya adalah sebagai tokoh Belanda. Walaupun saya
eftidak memerankan tokoh utama, saya tetap berusaha menjalankan peran tersebut dengan
sungguh-sungguh karena saya sadar bahwa setiap peran memiliki arti penting dalam
keseluruhan cerita. Saya berusaha memahami karakter tokoh yang saya perankan, baik dari
cara berbicara, sikap tubuh, maupun ekspresi yang harus ditampilkan. Selain itu, saya juga
belajar untuk menyesuaikan diri dengan alur cerita dan permainan peran teman-teman lain
agar pertunjukan dapat berjalan dengan baik. Melalui kerja kolaboratif bersama teman satu
kelas, saya belajar untuk saling mendukung, saling mengingatkan, dan saling membantu
ketika ada teman yang mengalami kesulitan dalam menghafal dialog atau memahami
adegan. Refleksi atas peran saya menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah pertunjukan
tidak ditentukan oleh satu orang saja, melainkan oleh kerja sama seluruh anggota kelas.
Dua keutamaan Vinsensian yang paling menonjol dan saya rasakan selama mengikuti
proses ujian praktik ini adalah kesederhanaan dan mati raga. Keutamaan kesederhanaan
saya praktikkan dengan cara berusaha tampil apa adanya, tidak berlebihan, dan tidak
membandingkan diri dengan peran teman-teman yang lain. Saya menerima peran sebagai
tokoh Belanda dengan lapang dada dan berusaha menjalankannya sebaik mungkin. Saya
juga belajar untuk rendah hati dalam menerima pendapat, arahan, dan masukan dari guru
maupun teman satu kelas.
Keutamaan mati raga juga saya alami secara nyata selama proses latihan dan persiapan
ujian praktik. Saya harus menahan rasa malas, mengorbankan waktu istirahat, serta
meluangkan waktu di sela-sela kesibukan sekolah untuk berlatih bersama teman satu kelas.
Selain itu, saya juga belajar untuk lebih terbuka dalam menerima pembelajaran, saran, dan
kritik, meskipun terkadang tidak mudah untuk menerimanya. Melalui proses ini, saya
menyadari bahwa mati raga bukan hanya tentang menahan diri secara fisik, tetapi juga
tentang melatih sikap hati agar tidak mudah tersinggung dan mau terus belajar.
Secara keseluruhan, proses ujian praktik secara kolaboratif bersama teman satu kelas ini
menjadi pengalaman yang sangat bermakna bagi saya. Saya tidak hanya belajar tentang
kisah perjuangan Anakletus Tjilik Riwut, tetapi juga belajar tentang arti kerja sama, tanggung
jawab, dan pengorbanan. Melalui ujian praktik ini, saya semakin memahami bahwa nilai
kesederhanaan dan mati raga sangat penting untuk membentuk pribadi yang lebih dewasa,
siap menghadapi tantangan, serta mampu bekerja bersama orang lain di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top