Terlibat Secara Mendalam: Mewujudkan Kontribusi Nyata – Tao Yao Hua XII B2/29

Tao Yao Hua / XII B2 / 29

September 2025

Melaksanakan proyek besar seperti ujian praktek harus dilakukan jauh-jauh hari, termasuk persiapan ujian praktek yang dimulai sejak bulan September 2025. Sebagai penulis naskah, saya berproses dalam belajar lebih banyak mendengarkan ide rancangan cerita dari scriptwriter-scripwriter lain agar dapat tercipta harmoni dalam rangkaian cerita secara keseluruhan. Selama penulisan alur, saya belajar banyak tentang menyeimbangkan kreativitas dalam sastra dengan akurasi sejarah agar dapat menghormati tokoh pahlawan yang kami tulis. Dalam diskusi, saya cenderung mendengarkan dan melaksanakan instruksi dalam mengerjakan bagian saya dari garis besar alur yang sudah disepakati melalui diskusi. Meski begitu, saya memutuskan untuk tidak bersikap pasif dalam menuliskan detail alur dalam naskah drama, melainkan bersikap aktif dan kooperatif dalam tulisan. Saya menambahkan kreativitas dalam menggabungkan gaya bahasa saya dalam bercerita dengan esensi dasar dari tokoh Nasional Katolik yang dipilih kelas saya. Walaupun terdapat tantangan karena perbedaan pendapat, pada akhirnya, kami dapat membuat draft dasar tulisan yang siap untuk dikonsultasikan ke guru pembimbing kami.

Oktober–Desember 2025

Memasuki Oktober 2025, saya dan penulis naskah lainnya mulai menyusun draft dasar itu menjadi sebuah naskah dengan memantapkan informasi sejarah yang sudah ada. Pada awalnya, saya mengalami kesulitan dalam menulis bagian saya karena diperlukan informasi yang lebih detail mengenai alur perjuangan tokoh nasional yang dipilih karena keterbatasan sumber dari internet. Meski tak mudah, pada akhirnya kami diperkenalkan oleh seorang narasumber yang memberikan informasi yang lebih lengkap yang tidak ada di internet. Narasumber ini memberikan powerpoint yang lengkap mengenai informasi biografi tentang tokoh nasional tersebut, sehingga saya dapat menuliskan bagian saya dengan lebih mudah karena mengerti apa yang sebenarnya terjadi dalam proses perjuangan tersebut. Dari situ, saya memahami bahwa dalam melakukan proyek terkadang perlu untuk meminta bantuan agar orang lain dapat membantu memberikan sumber yang tepat agar hasil kerja kita menjadi lebih baik dan berkualitas demi kepentingan bersama.

Setelah penambahan informasi dari narasumber, selesailah draft pertama yang disempurnakan untuk diserahkan ke guru-guru pembimbing. Awalnya, saya dan penulis naskah lainnya menyangka ini akan mudah. Rupanya, masih ada bagian yang perlu dipersingkat sehingga dari satu draft berkembang menjadi enam draft. Konsultasi pertama yang dilakukan yakni dengan guru Bahasa Mandarin. Selanjutnya, kami melakukan konsultasi dengan guru Bahasa Jawa untuk memastikan penggunaan bahasa yang sesuai. Setelah itu, saya membawa naskah tersebut ke guru Bahasa Indonesia untuk ditinjau secara keseluruhan. Di tahap ini, saya diminta untuk memperpendek naskah.Meski tidak mudah dan masih ada bagian cerita yang kami rasa penting, kami pada akhirnya memadatkan dialog dan juga memotong beberapa adegan agar lebih nyaman untuk dilaksanakan.

Kesulitan terbesar saya adalah melihat bahwa sebagian besar adegan yang dihapus adalah bagian saya. Pada awalnya, saya tidak terima karena menurut saya bagian-bagian tersebut adalah yang membuat cerita tokoh ini lebih emosional dan dramatis. Untuk mengatasinya, saya belajar untuk mau menerima dan terbuka terhadap kritik dan saran dari orng-orang di sekitar saya. Dari enam draft pada naskah, saya belajar bahwa menulis adalah proses yang dinamis dan penuh revisi. Melalui proses revisi ini, saya belajar untuk terbuka terhadap keritik, lebih sabar, dan beradaptasi dengan perubahan yang lebih baik karena pertunjukan yang indah berasal dari naskah yang indah pula.

Dalam lubuk hati saya, saat pertemuan dengan narasumber, ada sesuatu yang mengetuk hati saya untuk terlibat langsung dalam pertunjukan. Di tengah-tengah proses scripwriting, saya mengajukan diri untuk terlibat sebagai cast dalam pertunjukan tersebut. Pada akhirnya, setelah perubahan casting karena ada satu tokoh yang bersifat fiktif dan terjadi perombakan casting, saya akhirnya mendapat casting sebagai istri dari tokoh nasional yang dibawakan.

Januari-Februari 2026

Seiring bergantinya semester baru, saya akhirnya mulai melakukan bagian saya dalam casting saya. Selama proses casting itu, saya kerap mengalami perubahan dalam blocking saya sampai 3 kali. Selain itu, menjelang gladi kotor, saya pun belajar dalam berjalan membungkuk dan pelan serta bersikap lembut. Hal tersebut bertentangan dengan diri saya yang serius dan keras, tetapi saya berhasil melewatinya dengan baik sehingga pada saat pertunjukan banyak yang mengatakan akting saya meyakinkan sebagai istri.

Selain casting, saya juga terkadang membentu dalam melakukan dekor dengan membur daun semak untuk prop dan juga mewarnai ikan saat saya terlambat menyadari bahwa saya dipotong dari anggota menari flash mob karena unukran kain penutup untuk tari flash mob terlalu pendek begitu ada revisi musik dan koreografi.

Tantangan saya adalah ketika saya harus tabah dikeluarkan dari flashmob dan menyesuaikan diri dengan kepribadian karakter yang saya aktingkan. Saya perlu berulang kali mengalami proses tabah dan berserah diri kepada Tuhan untuk menjiwai karakter saya. Bahkan, ketika pertama kali belajar dalam sikap tubuh, saya berulang kali melakukan kesalahan teknik. Untuk mengatasinya, saya menghilangkan rasa marah saya serta bersabar dan berani bertanya serta meminta evaluasi mengenai gerakan saya agar dapat memperoleh hasil maksimal. Melalui akting tokoh ini, saya dapat menyentuh kepribadian saya yang asli di balik ketangguhan yang saya tampilkan di luar. Untuk pertunjukan ini, saya belajar untuk mengeluarkan kepribadian saya yang lembut dan peduli yang saya sembunyikan selama bertahun-tahun, yang memudahkan saya untuk memerankan tokoh yang saya mainkan.

Selama ini, saya mengenal diri saya sebagai pribadi yang keras, serius, tegas, dan tangguh. Saya selalu merasa harus tampil kuat di hadapan orang lain. Namun, melalui proses penggalian karakter ini, saya menyadari sebuah kebenaran yang jujur: kepribadian asli saya bukanlah keras.

Sifat keras dan tangguh yang selama ini muncul hanyalah sebuah cangkang atau perisai yang terbentuk secara alami karena kerasnya dunia. Tantangan hidup, tekanan lingkungan, dan ekspektasi sosial seringkali memaksa kita untuk membangun tembok pertahanan agar tidak mudah terluka. Tanpa disadari, saya telah memakai “topeng ketangguhan” itu begitu lama hingga saya sendiri lupa bahwa di bawahnya terdapat hati yang lembut.

Saat saya harus mendalami peran seorang istri tokoh yang dikenal karena keanggunan dan kelembutannya, saya mengalami pergolakan batin. Awalnya, saya merasa asing. Bagaimana mungkin saya yang “keras” ini bisa membawakan karakter yang begitu halus?

Akan tetapi, setiap kali saya berlatih menurunkan nada bicara, mengatur gerak tubuh yang lebih tenang, dan menyelami empati tokoh tersebut, saya merasa ada sesuatu dalam diri saya yang perlahan mencair. Kelembutan yang saya tampilkan di atas panggung ternyata bukan sekadar imitasi atau kepura-puraan. Itu adalah bagian dari diri saya yang sudah lama “dipenjara” oleh rasa takut akan kerentanan.

Saya begitu senang dan saya belajar bahwa untuk dapat terlibat terkadang seseorang harus berani terlibat secara mendalam di segala hal yang saya kerjakan. Terlibat berarti mau dan bersedia dalam bekerja di balik layar dan berani tampil di depan saat diperlukan untuk menunjukkan karyamu dalam kolaborasi bersama pada dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top