Kegiatan ujian praktik (uprak) drama berjudul Anakletus Tjilik Riwut menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya di kelas XII. Dalam pementasan yang mengangkat kisah tokoh pahlawan nasional asal Kalimantan, yaitu Tjilik Riwut, saya mendapat tanggung jawab sebagai anggota sie kostum sekaligus terlibat sebagai penari dalam flashmob. Pengalaman ini memberikan banyak pelajaran berharga tentang kerja sama, tanggung jawab, manajemen waktu, dan komitmen.
Proses persiapan dimulai pada tanggal 13 November ketika kami mulai merencanakan kostum untuk para pemeran. Kami mendiskusikan pembagian cast, menentukan konsep pakaian dan aksesoris yang sesuai dengan karakter, serta membuat moodboard sebagai panduan visual. Dari tahap ini, saya belajar bahwa perencanaan yang matang sangat penting agar hasil akhirnya sesuai dengan konsep yang diinginkan. Tidak hanya soal memilih baju, tetapi juga memastikan setiap kostum mampu merepresentasikan latar waktu dan karakter tokoh secara tepat.

Pada tanggal 15 Desember, kami mulai mengukur lingkar dada dan tinggi badan para pemeran agar kostum yang digunakan pas dan nyaman. Setelah itu, kami mencari dan membeli kebutuhan kostum, baik secara online maupun langsung ke Pasar Pusat Grosir Surabaya. Proses ini cukup menantang karena kami harus menyesuaikan dengan anggaran sekaligus tetap menjaga kualitas dan kesesuaian dengan konsep. Dari sini saya belajar untuk lebih teliti, sabar, dan bertanggung jawab dalam menggunakan dana yang ada.

Memasuki bulan Januari, kami mulai mencari inspirasi makeup untuk karakter tokoh dan melakukan test makeup pada tanggal 8 Januari. Kegiatan ini membantu kami melihat apakah konsep yang dirancang sudah sesuai atau masih perlu perbaikan. Saya menyadari bahwa makeup memiliki peran penting dalam menghidupkan karakter di atas panggung, bukan sekadar memperindah penampilan.

Pada tanggal 10 Januari, saya membantu proses makeup untuk pembuatan teaser video. Kemudian pada tanggal 16 Januari, saya mengikuti sesi foto sie untuk keperluan promosi. Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya detail dan konsistensi visual, karena hasil foto dan video akan menjadi gambaran pertama yang dilihat penonton.

Selain menjadi bagian dari sie kostum, saya juga tampil dalam dance flashmob. Hal ini membuat saya harus membagi waktu antara latihan menari dan tanggung jawab kostum. Pada tanggal 7 Februari, saya bersama teman-teman bahkan menginap di rumah salah satu teman untuk mengecat kain yang digunakan dalam flashmob. Momen tersebut terasa melelahkan, tetapi juga sangat menyenangkan karena kami bisa bekerja sama sambil mempererat kebersamaan.

Menjelang hari H, kami menjalani latihan intensif selama kurang lebih satu minggu. Jadwal yang padat sempat membuat saya merasa lelah, namun semangat tim membuat semuanya terasa lebih ringan. Akhirnya pada tanggal 12 Februari, kami dapat tampil dengan lancar. Perasaan bangga dan lega yang saya rasakan saat itu benar-benar tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Melalui kegiatan uprak drama ini, saya belajar bahwa keberhasilan sebuah pementasan tidak hanya bergantung pada pemeran utama, tetapi juga pada kerja keras seluruh tim di balik layar. Saya belajar untuk lebih disiplin, mampu mengatur waktu, serta bekerja sama dengan berbagai karakter teman yang berbeda. Pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga yang akan selalu saya ingat, bukan hanya sebagai tugas sekolah, tetapi sebagai proses pendewasaan diri.