Refleksi Uprak Elizabeth Elena Wirawan/12

Seluruh rangkaian persiapan uprak “Tjilik Riwut” menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Dalam kegiatan ini, saya terlibat di sie kostum dan makeup, sie musik, serta ikut berpartisipasi dalam flashmob. Dari awal perencanaan hingga hari penampilan, saya belajar banyak hal tentang kerja sama, tanggung jawab, dan proses.

Keterlibatan saya di sie kostum dimulai pada 13 November 2025, saat kami berdiskusi mengenai kebutuhan kostum dan mencari tempat rental yang sesuai. Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan dan menghitung perkiraan biaya, kami menyadari bahwa menyewa kostum berkali-kali akan lebih mahal dibandingkan membelinya langsung. Karena itu, pada 10 Desember 2025 kami memutuskan untuk pergi ke Pasar Turi dan mencari kostum tentara serta gubernur. Proses ini mengajarkan saya untuk lebih aktif dalam menyampaikan pendapat dan tidak ragu memberikan ide saat berdiskusi bersama tim.

Selanjutnya, pada 8 Januari 2026, kami melakukan tes makeup pertama untuk para aktor. Kami mencoba membuat efek luka, goresan, dan lebam pada karakter tentara, serta riasan tua untuk beberapa tokoh. Hasilnya cukup memuaskan dan berjalan lancar. Dari pengalaman tersebut, saya semakin menyadari bahwa kostum dan tata rias memiliki peran penting dalam mendukung jalannya cerita. Detail kecil pada penampilan aktor dapat membuat karakter terasa lebih hidup dan membantu penonton memahami suasana yang ingin disampaikan.

Pada 15 dan 16 Januari 2026, kami melakukan shooting teaser untuk adegan tentara Indonesia dan Belanda di Kedung Cowek, dan beberapa anggota sie kostum serta makeup ikut terlibat, termasuk saya. Kami membantu memakaikan kostum tentara secara lengkap beserta atributnya dan mengaplikasikan makeup seperti efek luka, lebam, serta kotoran agar terlihat lebih realistis di kamera, ditambah dengan properti tembakan yang membuat suasana semakin hidup. Pengalaman ini terasa sangat seru karena kami bisa melihat langsung adegan tentara beraksi di lokasi outdoor sehingga terasa lebih nyata dibanding latihan biasa. Setelah shooting selesai, kami juga mengevaluasi beberapa hal seperti makeup yang kurang terlihat jelas di kamera dan kostum yang sedikit rusak, sehingga ke depannya bisa diperbaiki dan dipersiapkan dengan lebih maksimal.

Saat gladi kotor pada 10 Februari 2026, seluruh aktor dan aktris mengenakan kostum lengkap untuk pertama kalinya dalam latihan penuh. Pada momen itu saya belajar untuk lebih teliti, terutama dalam memperhatikan pergantian kostum dan memastikan semua perlengkapan pendukung sudah siap. Hal sederhana seperti membawa peniti atau jepit ternyata sangat membantu ketika terjadi kendala kecil yang tidak terduga.

Di sie musik, pertemuan pertama kami berlangsung pada 2 Desember 2025. Kami merancang tiga lagu yang akan menjadi soundtrack uprak. Lagu pertama dibuat untuk adegan kepala suku bersama Tjilik Riwut. Awalnya kami cukup kesulitan menentukan genre dan menyusun lirik yang sesuai dengan suasana adegan. Namun setelah melakukan brainstorming bersama, ide mulai mengalir dan setiap anggota memberikan kontribusi. Pada hari itu juga kami berhasil menyelesaikan demo lagu pertama. Proses tersebut membuat saya menyadari bahwa menciptakan lagu yang sesuai dengan emosi sebuah adegan bukanlah hal yang mudah. Perbedaan tempo, nada, dan dinamika dapat menghasilkan suasana yang berbeda pula. Dari sini saya belajar pentingnya kerja sama dan keterbukaan terhadap ide satu sama lain.

Selain itu, saya juga ikut dalam bagian flashmob. Pada awalnya saya merasa kesulitan menghafal gerakan, apalagi ketika ada beberapa perubahan koreografi. Namun teman-teman dari sie koreografi dengan sabar membimbing kami hingga gerakan terasa lebih terbiasa. Ada satu momen ketika saya diminta untuk mengisi bagian koreografi singkat yang baru. Saya sempat merasa ragu, tetapi akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba demi kelancaran penampilan bersama.

Menjelang hari-H, latihan semakin intensif. Pada 28 Januari 2026 kami melakukan latihan terakhir sebelum gladi kotor dan memperbaiki beberapa adegan yang masih terasa kurang natural. Tanggal 7 dan 8 Februari 2026 kami berkumpul di rumah Eugene untuk menyelesaikan pengecatan properti seperti peta Indonesia, pesawat, dan gambar Tjilik Riwut. Kemudian pada 9 Februari 2026 kami latihan di Vision Studio Marvell City dengan beberapa kali runthrough penuh. Latihan dilanjutkan pada 10 Februari 2026 di Lagoon Avenue yang sekaligus menjadi gladi kotor. Terakhir, pada 11 Februari 2026 kami melakukan latihan final di Ivy Studio untuk memastikan semua bagian sudah siap.

Melalui seluruh proses ini, saya memahami bahwa sebuah penampilan yang baik lahir dari latihan yang konsisten dan kerja sama yang solid. Saya belajar untuk lebih bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, lebih berani mengambil peran ketika dibutuhkan, serta lebih menghargai setiap proses yang dijalani bersama tim. Pengalaman uprak ini menjadi salah satu pengalaman paling berharga selama saya bersekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top